Selasa, 03 Desember 2013

Asetil Sistein

Deskripsi, Golongan/kelas terapi, Nama Dagang, , Indikasi, Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian, Farmakologi, Stabilitas penyimpanan, Kontraindikasi, efek samping, Interaksi, Mekanisme, Bentuk Sediaan, Peringatan, Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus, Informasi Pasien, Monitoring Penggunaan Obat Asetil Sistein
(ilustrasi)
Deskripsi
- Nama & Struktur Kimia
:
N-acetyl-L-cysteine. (3). C5H9NO3S
- Sifat Fisikokimia
:
Serbuk kristal warna putih, bau agak asam. (3,5), Mudah larut dalam air (1 : 5), alkohol (1 : 4), praktis tidak larut dalam kloroform, eter. (3), pH larutan 1% dalam air = 2.0-2.8. (3)

- Keterangan
:
-
Golongan/Kelas Terapi
Obat Untuk Saluran Napas
Nama Dagang
- Fluimucil
- Sistenol (2)
- Dorbigot
Indikasi
Terapi tambahan untuk pasien dengan sekresi mukus abnormal / kental pada kondisi bronchopulmonary akut dan kronik (pneumonia, bronkitis, emfisema, tracheobronchitis, chronic asthmatic bronchitis, tuberkulosis, bronchiectasis, primary amyloidosis of the lung); atelectasis yang disebabkan oleh obstruksi mukus; komplikasi cystic fibrosis paru; kondisi post-traumatic pada dada.4,5. Juga digunakan selama anestesi dan penyiapan pasien untuk bronchograms, bronchospirometry, bronchial wedge catheterization dan studi diagnostik bronkial yang lain. (5)
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Nebulasi (3,5) : 3-5 mL larutan 20% atau 6-10 mL larutan 10%, diberikan melalui face mask atau mouthpiece, 3-4 kali sehari. Jika diperlukan 1-10 mL larutan 20% atau 2-20 mL larutan 10%, setiap 2-6 jam. Oral (kaplet, granul atau tablet effervescent) (3) : 200 mg 2-3 kali sehari. Anak 1-2 th : 100 mg 2 kali sehari; anak 2-7 th : 200 mg 2 kali sehari.
Farmakologi
Cepat diabsorpsi dari saluran cerna dan konsentrasi plasma maksimum dicapai dalam 0.5-1 jam setelah dosis oral 200-600 mg.Bioavailabilitas oral rendah (4-10%), tergantung apakah yang diukur adalah total asetilsistein atau bentuk reduksinya. Bioavailabilitas oral yang rendah disebabkan oleh metabolisme dalam dinding usus dan first-pass metabolisme di hati. (3) Renal clearance sekitar 30% dari total body clearance. (3) Waktu paruh (oral) : 6.25 jam. (3)
Stabilitas Penyimpanan
Disimpan dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya. (3) Asetil sistein merupakan bahan pereduksi sehingga tidak tercampurkan dengan bahan pengoksidasi. Perubahan warna larutan menjadi ungu muda tidak menunjukkan adanya penurunan efikasi atau keamanan. (3,5)
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap asetil sistein atau komponen lain dalam formula. (4) Gangguan hati. (2)
Efek Samping
Reaksi hipersensitivitas (bronkospasme, angioedema, kemerahan, gatal), hipotensi / hipertensi (kadang-kadang), mual, muntah, demam, syncope, berkeringat, arthralgia, pandangan kabur, gangguan fungsi hati, asidosis, kejang, cardiac / respiratory arrest. (3)
Interaksi
- Dengan Obat Lain : Karbamasepin1  :
subterapetik level dari Karbamasepin
Nitrogliserin1  : meningkatkan efek hipotensi dan efek sakit kepala dari nitrogliserin.
Pihak produsen menyatakan bahwa larutan sodium asetil sistein secara fisik dan kimia tidak tercampurkan dengan larutan yang mengandung amphotericin B, tetracyclines, erythromycin lactobionate atau ampicillin sodium.
Jika anti-infeksi tersebut digunakan secara inhalasi, maka sebaiknya dinebulasi secara terpisah. (5)
Larutan asetil sistein juga tidak tercampurkan secara fisik dengan iodized oil, trypsin, chymotrypsin dan hydrogen peroxide. (5)
- Dengan Makanan : -
Pengaruh
- Terhadap Kehamilan : Kategori B. (1,4), Asetil sistein dilaporkan menembus plasenta pada manusia setelah pemberian oral atau IV. Tetapi belum ada studi kontrol yang cukup tentang penggunaan pada ibu hamil. Asetil sistein digunakan selama kehamilan jika memang benar-benar dibutuhkan. (5)
- Terhadap Ibu Menyusui : Belum diketahui mengenai distribusinya ke dalam ASI, tetapi diperlukan perhatian untuk penggunaan pada ibu menyusui. (5)
- Terhadap Anak-anak : -
- Terhadap Hasil Laoratorium : -
Parameter Monitoring
Fungsi hati / ginjal, keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit. (1)
Bentuk Sediaan
Kaplet 200 mg, Tablet Effervescent 600 mg, Sachet 200 mg, Pediatric sachet, Dry syrup, Ampul 300 mg/3 ml. (2)
Peringatan
Pasien asthmatic. (2,3), Pasien dengan riwayat ulkus peptik karena asetil sistein menyebabkan mual dan muntah sehingga meningkatkan risiko gastrointestinal haemorrhage; mukolitik mengganggu gastric mucosal barrier. (3 )
Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus
-
Informasi Pasien
-
Mekanisme Aksi
Mengurangi kekentalan / viskositas sekret dengan memecah ikatan disulfida pada mukoprotein, memfasilitasi pengeluaran sekret melalui batuk. Mekanisme ini paling baik pada pH 7-9, sehingga pH sediaan diadjust dengan NaOH. (3,5)
Monitoring Penggunaan Obat
Pasien asma yang mendapatkan inhalasi asetil sistein harus dipantau secara ketat selama terapi. Jika terjadi bronkospasme, sebaiknya diberikan bronkodilator secara nebulasi. Jika bronkospasme masih terus terjadi, penggunaan asetil sistein sebaiknya segera dihentikan.5 Peningkatan volume sekret cair bronkial akan bertambah setelah penggunaan asetil sistein dan kemungkinan akan menutupi saluran nafas. Jika batuk tidak cukup untuk membuka saluran nafas, maka perlu dilakukan mechanical suction atau endotracheal aspiration. (5)

Daftar Pustaka
Micromedex
MIMS 105th edition Annual Indonesia 2006/2007.
Martindale 35th ed, 2006
Drug Information Handbook International, Lexi-Comp's, 2005
AHFS
[Dinkes Tasikmalaya]

Asam Retinoat (Retinoic Acid)

Deskripsi, Golongan/kelas terapi, Nama Dagang, , Indikasi, Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian, Farmakologi, Stabilitas penyimpanan, Kontraindikasi, efek samping, Interaksi, Mekanisme, Bentuk Sediaan, Peringatan, Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus, Informasi Pasien, Monitoring Penggunaan Obat Asam Retinoat (Retinoic Acid)
(ilustrasi)
Deskripsi
- Nama & Struktur         Kimia
:
Iso-Tritinoin, Asam Rinoat Vitamin A, 15 -beta caroten-15 oic acid
- Sifat Fisikokimia
:
Serbuk hablur, kuning sampai jingga muda tidak larut dalam air, sukar larut
dalam etanol
- Keterangan
:
Sinonim : Tretinoin
Golongan/Kelas Terapi
Obat Topikal untuk Kulit
Nama Dagang
- Jeraklin
- Melavita
- Nuface
- Retin A
- Skinovit
- Tracne
- Trentin
- Vitacid
- Eudyna
Indikasi
Pengobatan acne vulgaris (jerawat) termasuk nodulocystic, jerawat konglobat, jerawat berat, jerawat yang tak bisa diobati dengan antibiotika, jerawat dengan masalah psikologis, jerawat pada wanita umur 30-40 tahunan, kulit yang rusak karena cahaya (photodamaged skin)
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Secukupnya oleskan pada luka jerawat. Mulai terapi dengan sediaan berkekuatan rendah (krim 0.025%, gel 0.04% atau 0.01%) dan tingkatkan dosis jika bisa ditoleransi, sekali sehari sebelum tidur atau saat beraktiitas. Jika timbul rasa tersengat atau iritasi, kurangi frekuensi pemakaian.
Farmakologi
Sangat sedikit diserap melalui kulit. Metabolisme : Hati untuk jumlah kecil yang terabsorbsi. Ekskresi melalui urin dan feses.
Stabilitas Penyimpanan
Tidak tahan dalam larutan yang mengandung antioksidan. Simpan ditempat tertutup rapat lebih baik dalam gas inert, terlindung dari cahaya. Jauhkan dari anak-anak, jangan simpan di dekat kamar mandi, kulkas dan tempat panas.
Kontraindikasi
Hipersensitivitas, kehamilan, pengguna kontrasepsi, riwayat epitelioma kulit dan sunburn.
Efek Samping
Reaksi lokal (rasa terbakar, eritema, gatal, kulit kering atau terkelupas), peningkatan sensitivitas terhadap UV B, perubahan sementara pada pigmentasi kulit, iritasi mata, dan udema.Perubahan psikis (jika terjadi obat dihentikan) dan laporkan ke psikiater.
Interaksi
- Dengan Obat Lain : Peningkatan efek/toksisitas : penggunaan topikal sulfur, benzoil peroksida, asam salisilat, resorsinol, atau obat lain yang mempunyai efek pengering yang kuat dapat menyebabkan reaksi efek samping pada penggunaan asam retionoat.
- Dengan Makanan : Hindari penggunaan makanan yang banyak mengandung vitramin A (seperti minyak ikan).
Pengaruh
- Terhadap Kehamilan : Faktor resiko : C
- Terhadap Ibu Menyusui : Asam retinoat diketahui didistribusikan ke air susu.
- Terhadap Anak-anak : -
- Terhadap Hasil Laboratorium : -
Parameter Monitoring
-
Bentuk Sediaan
Krim, Tube 20 g, 0,05%
Peringatan
Hati hati jangan sampai terkena mata, mulut dan selaput mukosa lain. Tidak dapat dipakai bersama keratolitik. Pada penggunaan agar dihindari terkena cahaya matahari. Tidak digunakan pada Infeksi mukosa, kulit memerah. Pada saat penggunaan disarankan menggunakan penangkal / penyaring sinar UV.
Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus
-
Informasi Pasien
Sampaikan kepada dokter atau apoteker kalau pernah alergi dengan obat ini. Pada saat akan memakai obat ini cuci kulit dengan bersih menggunakan sabun atau air hangat.
Mekanisme Aksi
Bekerja dengan merangsang epitel membentuk sel tanduk dan mengurangi kohesi pada folikel sebum sehingga mudah untuk dihilangkan, menghambat pembentukan mikrokomedon dan menghilangkan luka yang sudah ada.
Monitoring Penggunaan Obat
-

Daftar Pustaka
IONI
Martindale, 34th edition, 2005
BNF 52
Merck Index
Farmakope Indonesia
ISO Indonesia 42
Iso Generik
Advice for Patient (USP DI)
Drug Information Handbook, 14th edition
[Dinkes Tasikmalaya]

ANTIDOTUM dan ANTITOKSIK


Antidotum adalah obat penawar racun, sedangkan antitoksik adalah obat penawar terhadap zat yang beracun (toksik) terhadap tubuh.
ANTIDOTUM
Antidotum lebih difokuskan terhadap over dosis atau dosis toksik dari suatu obat. Kondisi suatu obat dapat menimbulkan keracunan bila digunakan melebihi dosis amannya. Selain itu,
perbedaan metabolisme tubuh setiap orang terhadap dosis obat juga mempengaruhi. Obat dapat menjadi racun bila dikonsumsi dalam dosis berlebihan. Dalam hal ini, obat tidak akan menyembuhkan melainkan berbahaya. Umumnya akan timbul efek sampingnya.

Praktisi kesehatan seperti dokter dan apoteker harus berhati-hati dalam memilih dosis obat yang sesuai dengan kondisi penderita. Obat yang sama dapat diberikan dalam dosis yang berbeda kepada bayi, anak-anak, dewasa dan usia lanjut. Hal ini disebabkan perbedaan kesempurnaan pembentukan organ-organ tubuh terutama hati dalam tiga jenis manusia tersebut.

Pengobatan terhadap keracunan obat yang umum untuk keracunan yang terjadi kurang dari 24 jam yaitu dengan :
  • membilas lambung bila obat baru ditelan, 
  • memuntahkan obat
  • tindakan khusus untuk mempercepat pengeluaran obat dari tubuh, 
  • Setelah bilas lambung, karbon aktif dan suatu pencahar perlu diberikan.

Pada keracunan yang parah dibutuhkan antidotum yang memang terbukti menolong terhadap efek keracunan obat tertentu, misal asam Folinat untuk keracunan metotrexat.

Nalokson, atropin, chelating agent, natrium tiosulfat, metilen biru merupakan antidotum spesifik yang sangat ampuh dan sering menimbulkan reaksi pengobatan yang dramatis. Namun, sebagian terbesar kasus keracunan harus dipuaskan dengan pengobatan gejalanya saja, dan inipun hanya untuk menjaga fungsi vital tubuh, yaitu pernafasan dan sirkulasi darah.

Racun akan didetoksikasi oleh hepar secara alamiah dan racun atau metabolitnya akan diekskresi melalui ginjal dan hati. Selama keracunan hanya perlu dipertahankan pernapasan dan sistem kardiovaskuler (fungsi vital).

[Apotek Medicastore]

Senin, 02 Desember 2013

Amoksisilin

Deskripsi, Golongan/kelas terapi, Nama Dagang, , Indikasi, Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian, Farmakologi, Stabilitas penyimpanan, Kontraindikasi, efek samping, Interaksi, Mekanisme, Bentuk Sediaan, Peringatan, Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus, Informasi Pasien, Monitoring Penggunaan Obat Amoksisilin
Deskripsi
- Nama & Struktur Kimia
:
Asam (2S,5R,6R)-6[ (R)-(-)-2-amino-2-(p-hidroksifenil)asetamido]-3-3-dimetil-7-okso-4-tia-1-azabisiklo[3,2,0]-heptana-2-karboksilat trihidrat . C16N19N3NaO5S
- Sifat Fisikokimia
:
Mengandung tidak kurang dari 90.0% C16N19N3NaO5S dihitung sebagai anhidrat. Amoksisilin berwarna putih, praktis tidak berbau. Sukar larut dalam
air dan methanol; tidak larut dalam benzena, dalam karbontetraklorida dan dalam kloroform. Secara komersial, sediaan amoksisilin tersedia dalam bentuk trihidrat. serbuk hablur, dan larut dalam air. Ketika dilarutkan dalam air secara langsung, akan berbentuk amoksisislin suspensi oral dengan pH antara 5 - 7.5.
- Keterangan
:
Amoksisilin adalah aminopenisilin yang perbedaan strukturnya dengan ampisilin hanya terletak pada penambahan gugus hidroksil pada cincin fenil. pH larutan 1% dalam air = 4.5-6.0.1
Golongan/Kelas Terapi
Anti Infeksi
Nama Dagang
- Abdimox
- Aclam
- Amobiotic
- Amocomb
- Amosine
- Amoxan
- Amoxil
- Amoxillin
- Ancla
- Arcamox
- Athimox
- Auspilin
- Ballacid
- Bannoxillin
- Bellamox
- Biditin
- Bimoxyl
- Bintamox
- Broadamox
- Bufamoxy
- Clacomb
- Claneksi
- Claxy
- Comsikla
- Corsamox
- Danoxillin
- Dexymox
- Erphamox
- Etamox
- Farmoxyl
- Goxallin
- Hiramox
- Hufanoxil
- Ikamoxyl
- Improvox
- Inamox
- Intemoxyl
- Kalmoxillin
- Kamox
- Kemosillin
- Kenoko
- Kimoxil
- Lactamox
- Leomoxyl
- Liskoma
- Medimox
- Mestamox
- Mexylin
- Mokbios
- Moxaxil
- Moxigra
- Moxtid
- Novax
- Nufamox
- Omemox
- Opimox
- Ospamox
- Palentin
- Penmox
- Primoxil
- Pritamox
- Protamox
- Ramoxlan
- Ramoxyl
- Robamox
- Sammoxil F
- Scannoxyl
- Sirimox
- Solpenox
- Ssilamox
- Supramox
- Surpas
- Topcillin
- Varmoxillin
- Vibramox
- Vulamox
- Widecillin
- Yefamox
- Yusimox
- Zemoxil
- Zumafen
Indikasi
Amoksisilin digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram negatif (Haemophilus Influenza, Escherichia coli, Proteus mirabilis, Salmonella). Amoksisilin juga dapat digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri positif (seperti; Streptococcus pneumoniae, enterococci, nonpenicilinase-producing staphylococci, Listeria) tetapi walaupun demikian, aminophenisilin, amoksisilin secara umum tidak dapat digunakan secara sendirian untuk pengobatan yang disebabkan oleh infeksi streprococcus dan staphilococcal.
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
DOSIS ORAL ANAK:
Umum: Anak < 3 bulan: 20-30 mg/kg/hari terpisah setiap 12 jam.Anak >3 bulan dan <40kg; dosis antara 20-50 mg/kg/hari dosis terpisah setiap 8-12 jam. Khusus: Infeksi hidung,tenggorokan,telinga,saluran kemih dan kulit: ringan sampai sedang: 25 mg/kg/hari terbagi setiap 12 jam atau 20 mg/kg/hari setiap 8 jam.Gawat: 45 mg/kg/hari setiap 12 jam atau 40 mg/kg/hari setiap 8 jam. Otitis media akut: 80-90 mg/kg/hari setiap 12 jam.Infeksi saluran nafas bawah: 45 mg/kg/hari terbagi setiap 12 jam atau 40 mg/kg/hari setiap 8 jam.
DOSIS DEWASA:
Umum: Rentang dosis antara 250 – 500 mg setiap 8 jam atau 500 – 875 mg dua kali sehari.Khusus: Infeksi telinga, hidung, tenggorokan, saluran kemih, kulit: Ringan sampai sedang: 500 mg setiap 12 jam atau 250 mg setiap 8 jam.Berat: 875 mg setiap 12 jam atau 500 mg setiap 8 jam.Infeksi saluran nafas bawah: 875 mg setiap 12 jam atau 500 mg setiap 8 jam.Endocarditis profilaxis: 2 g sebelum prosedur operasi. Eradikasi Helicobacter pylori: 1000 mg dua kali sehari, dikombinasikan dengan satu antibiotik lain dan dengan proton pump inhibitor atau H2 bloker.
DOSIS BERDASARKAN FUNGSI GINJAL: Dosis 875 mg tidak diberikan pada pasien dengan : Clcr <30 mL/menit; Clcr 10-30 mL/menit; 250-500mg setiap 12 jam; Clcr <10 mL/menit: 250 – 500 mg setiap 24 jam.
PEMBERIAN:
Antibiotik amoksisilin termasuk antibiotik time deppendent sehingga untuk menjaga konsentrasi obat dalam plasma tetap berada pada kadar puncak, maka obat diberikan sesuai dengan jadwal waktu yang telah dibuat. Obat dapat diberikan bersamaan dengan makanan.
LAMA PEMBERIAN
Tergantung pada jenis dan tingkat kegawatan dari infeksinya, juga tergantung pada respon klinis dan respon bakteri penginfeksi. Sebagai contoh untuk infeksi yang persisten, obat ini digunakan selama beberapa minggu. Jika amoksisilin digunakan untuk penanganan infeksi yang disebabkan oleh grup A ß-hemolitic streptococci, terapi digunakan tidak kurang dari 10 hari guna menurunkan potensi terjadinya demam reumatik dan glomerulonephritis. Jika amoksisilin digunakan untuk pengobatan ISK (infeksi saluran kemih) maka kemungkinan bisa lebih lama, bahkan beberapa bulan setelah menjalani terapi pun, tetap direkomendasikan untuk diberikan.
Farmakologi
Absorbsi : cepat dan hampir sempurna, tidak dipengaruhi oleh makanan.
Distribusi : secara luas terdistribusi dalam seluruh cairan tubuh serta tulang; penetrasi lemah kedalam sel  mata dan menembus selaput otak; konsentrasi tinggi dalam urin; mampu menembus placenta; konsentrasi rendah dalam air susu ibu.
Ikan protein : 17-20%
Metabolisme : secara parsial melalui hepar.
Metabolisme : secara parsial melalui hepar.
Bayi lahir sempurna: 3,7 jam
Anak-anak : 1-2 jam.
Dewasa: fungsi ginjal normal 0.7-1,4 jam.
ClCr <10 mL/menit: 7-12 jam.
Time Peak; kapsul 2 jam; suspensi 1 jam.
Eksresi: urin (80% bentuk utuh); pada neonates eksresi lebih rendah
Diálisis:
Moderat diálisis melalui Hemo atau peritonial diálisis: 20-50%
Diálisis melalaui Arteriovenous atau venovenous mampu memfilter 50mg/ liter amoksisilin.
Stabilitas Penyimpanan
Stabilitas obat: amoksilin 125 dan 250 mg kapsul, chewable tablet, dan serbuk suspensi oral harus disimpan dalam suhu 20°C atau lebih rendah. Amosisilin 200 dan 400 mg chewable tablet dan salut tipis disimpan pada suhu 25°C atau lebih rendah
Kontraindikasi
Kontraindikasi untuk pasien yang hipersensitif terhadap amoksisilin, penisilin, atau komponen lain dalam obat.
Efek Samping
Susunan Saraf Pusat : Hiperaktif, agitasi, ansietas, insomnia, konfusi, kejang, perubahan perilaku, pening.
Kulit : Acute exanthematous pustulosis, rash, erytema multiform, sindrom stevens-johnson, dermatitis, tixic ephidermal necrolisis, hypersensitif vasculitis, urticaria.
GI : Mual, muntah, diare, hemorrhagic colitis, pseudomembranous colitis, hilangnya warna gigi.
Hematologi : Anemia, anemia hemolitik, trombisitopenia, trombositopenia purpura, eosinophilia, leukopenia, agranulositosi.
Hepatic : AST (SGOT) dan ALT (SGPT) meningkat, cholestatic joundice, hepatic cholestatis, acute cytolitic hepatitis.
Renal : Cristalluria
Interaksi
- Dengan Obat Lain :
Meningkatkan efek toksik:
1. Disulfiram dan probenezid kemungkinan meningkatkan kadar amoksisilin.
2. Warfarin kemungkinan dapat meningkatkan kadar amoksisilin
3. Secara teori, jika diberikan dengan allopurinol dapat meningkatkan efek ruam kulit.
Menurunkan efek:
1. Kloramfenikol dan tetrasiklin secara efektif dapat menurunkan kadar amoksisilin
2. Dicurigai amoksisilin juga dapat menurunkan efek obat kontrasepsi oral.
- Dengan Makanan : -
Pengaruh
- Terhadap Kehamilan : Faktor risiko : B, Data keamanan penggunaan pada ibu hamil belum diketahui.
- Terhadap Ibu Menyusui : Karena amoksisilin terdistribusi kedalam ASI (air susu ibu) maka dikhawatirkan amoksisilin dapat menyebabkan respon hipersensitif untuk bayi, sehingga monitoring perlu dilakukan selama menggunakan obat ini pada ibu menyusui.
- Terhadap Anak-anak : Data tentang keamanan masih belum diketahui.
- Terhadap Hasil Laboratorium : Berpengaruh terhadap hasil pengukuran : Hematologi dan hepar.
Parameter Monitoring
Pengamatan rutin terhadap: Fungsi ginjal (ClCr), Fungsi Hepar (SGPT, SGOT), Henatologi. (Hb), Indikator infeksi. (Suhu badan, kultur).
Bentuk Sediaan
Kapsul, Serbuk Kering Suspensi Oral, Tablet Salut Film, Tablet Kunyah
Peringatan
Pernah dilaporkan: Reaksi hipersensitifitas, meliputi reaksi  anaphilaksis dapat mengakibatkan efek yang fatal (kematian). Penggunaan jangka panjang, kemungkinan dapat mengakibatkan terjadinya suprainfeksi termasuk Pseudomembranous collitis. Pada pasien gagal ginjal, perla penyesuaian dosis. Kasus diare merupakan kasus terbanyak jika amoksisilin digunakan sendiri.
Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus
-
Informasi Pasien
Untuk menghindari timbulnya resistensi, maka sebaiknya amoksisilin digunakan dalam dosis dan rentang waktu yang telah ditetapkan. Amati jika ada timbul gejala ESO obat, seperti mual, diare atau respon hipersensitivitas. Jika masih belum memahami tentang penggunaan obat, harap menghubungi apoteker. Jika keadaan klinis belum ada perubahan setelah menggunakan obat, maka harap menghubungi dokter.
Mekanisme Aksi
Menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat satu atau lebih pada ikatan penisilin-protein (PBPs – Protein binding penisilin’s), sehingga menyebabkan penghambatan pada tahapan akhir transpeptidase sintesis peptidoglikan dalam dinding sel bakteri, akibatnya biosintesis dinding sel terhambat, dan sel bakteri menjadi pecah (lisis).
Monitoring Penggunaan Obat
Lamanya penggunaan obat : Menilai kondisi pasien sejak awal hingga akhir penggunaan obat. Mengamati kemungkinan adanya efek anaphilaksis pada pemberian dosis awal.

Daftar Pustaka
Drug information hand book. (DIH). 2006.
AHFS DRUG. 2005
Farmakope Indonesia IV. 1995.
ISO. INDONESIA.Volume 41 2006
[Dinkes Tasikmalaya]