Senin, 02 Desember 2013

Amikasin

Deskripsi, Golongan/kelas terapi, Nama Dagang, , Indikasi, Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian, Farmakologi, Stabilitas penyimpanan, Kontraindikasi, efek samping, Interaksi, Mekanisme, Bentuk Sediaan, Peringatan, Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus, Informasi Pasien, Monitoring Penggunaan Obat Amikasin

Deskripsi
- Nama & Struktur Kimia
:
6-O-(3-amino-3-deoxy-a-D-glucopyranosil)-4-O-(6-amino-6-deoxy--a-D-glucopyranosil)-N
- Sifat Fisikokimia
:
Serbuk berwarna putih atau hampir putih, larut sebagian dalam air, praktis tidak larut dalam alkohol dan aseton, sedikit larut dalam metil alkohol.

- Keterangan
:
pH 1% larutan dalam air : 9.5-11.5
Golongan/Kelas Terapi
Anti Infeksi
Nama Dagang
- Alostil
- Amikin
- Amikin
- Mikasin
Indikasi
Pengobatan infeksi serius dari organisme yang resisten terhadap Gentamisin dan Tobramycin, termasuk Pseudomonas, Proteus, Serratia, dan basil gram-negatif lain (infeksi tulang, infeksi saluran napas, endocarditis, dan septicemia); infeksi mikobakteri yang sensitif terhadap amikasin.
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
a. Dosis :
• Diperlukan penyesuaian  dosis karena mempunyai indeks terapi yang sempit.
Penggunaan pada berat badan ideal  untuk menentukan mg/kg BB/dosis diperlukan untuk memberikan dosis yang lebih tepat dari dosis berdasarkan berat badan total. Obesitas, dosis dapat dihitung : Berat Badan Ideal + 0,4 (Total Berat Badan-Berat Badan Ideal). Bayi, anak dan dewasa : I.M. , I.V. : 5 – 7,5 mg/kg BB/dosis setiap 8 jam. Beberapa dokter menyarankan dosis sehari 15-20 mg/kg BB untuk semua pasien dengan fungsi ginjal yang normal. Dosis interval pada penurunan fungsi ginjal:
ClCr >=60 mL/menit : diberikan setiap 8 jam
ClCr 40-60 mL /menit :diberikan setiap 12 jam
ClCr 20-40mL /menit : diberikan setiap 24 jam
ClCr <20 mL /menit : loading dose kemuadian monitor kadar
Hemodialisis :Dialyzable (50-100%) ; berikan dosis postdialisis atau berikan 2/3 dosis normal sebagai dosis tambahan postdialisis kemudian monitor kadar.
Continous arteriovenous atau venovenous hemodiafiltration effects : Dosis seperti untuk pasien dengan ClCr 10-40mL/menit dan monitor kadar.
c. Cara pemberian :
• Pemberian jangan dicampur dengan obat lain, diberikan secara terpisah.
• Diberikan injeksi I.M. pada otot dengan permukaan luas.
• I.V. infus diatas 30-60 menit
• Beberapa Penisilin (carbenisilin, ticarsilin dan piperasilin) dapat  menjadi in aktif secara in-vitro. Ini sudah diamati sebagian besar dengan tobramycin dan gentamycin, walaupun amikasin memperlihatkan lebih stabil.
Farmakologi
a. Absorbsi : diperlambat pada pemberian secara I.M. pada pasien yang  berbaring karena sakit atau sudah tua.
b. Distribusi :
• Melalui cairan ekstraseluler; berpenetrasi  pada blood-brain barrier jika ada inflamasi meningitis.
• Dapat melewati plasenta.
• Difusi relatif dari antimikroba dari darah melalui CSF : baik hanya jika inflamasi.
• CSF : blood level ratio : normal meningitis : 10%-20%; Inflamasi meningitis : 15% - 24%
c. Waktu paruh eliminasi :
• Infant : Berat Bayi Lahir Rendah (1-3 hari) : 7-9 jam; selanjutnya >7 hari : 4-5 jam
• Anak : 1,6-2,5 jam
• Dewasa : Fungsi ginjal normal : 1,4-2,3 jam; anuria / penyakit ginjal  : 28-86 jam
e. Kadar puncak : I.M. : 45-120 menit
f. Ekskresi : urin (94%-96%)
Stabilitas Penyimpanan
Stabilitas :
• Pada suhu kamar stabil selama 24 jam
• Campuran dengan D5W, D5 ¼ NS, D51/2 NS, NS, RL yang disimpan dalam lemari pendingin stabil selama 2 hari
Kontraindikasi
• Hipersensitif terhadap amikasin atau komponen lain dalam sediaan.
• Sensitivitas silang  dengan aminoglikosida lainnya dapat terjadi.
Efek Samping
1% - 10% :
Susunan saraf pusat : Neurotoksisitas
Telinga :Ototoksisitas (auditor), Ototoksis (vestibular)
Ginjal : nefrotoksisitas
<1% :
Reaksi alergi, dispnea, eosinofilia
Interaksi
Dengan Obat Lain :
• Amikasin dapat meningkatkan atau memperpanjang efek  dari agen bloker neuromuskular.
• Penggunaan bersama amfoterisin (atau obat nefrotoksik lain) dapat meningkatkan risiko nefrotoksisitas dari amikasin.
• Resiko ototoksisitas amikasin dapat meningkat dengan obat ototoksik lain.
Dengan Makanan :
-
Pengaruh
- Terhadap Kehamilan : Faktor risiko : C
- Terhadap Ibu Menyusui : Amikasin didistribusikan ke dalam air susu sehingga penggunaannya harus disertai perhatian.
- Terhadap Anak-anak : -
- Terhadap Hasil Laboratorium : Beberapa derivat penisilin akan mempercepat degrasi aminoglikosida secara in vitro, karena adanya penurunan konsentrasi serum aminoglikosida.
Parameter Monitoring
Urinanalysis, BUN, serum kreatinin, konsentrasi kadar puncak,  tanda vital,  temperature, berat badan, pendengaran. Beberapa derivat penicillin dapat mempercepat degradasi aminoglikosida secara in-vitro.
Bentuk Sediaan
Injeksi, Larutan Sebagai Sulfat 50 mg/ml (2 ml, 4 ml), 62,5 mg/ml (4 ml), 250 mg/ml (2 ml, 4 ml) Mengandung Metabisulfit.
Peringatan
• Dosis dan atau frekuensi pemberian harus dimonitor dan dimodifikasi terhadap pasien penurunan fungsi ginjal
• Obat dihentikan jika ada tanda ototoksisitas, nefrotoksisitas, atau terjadi hipersensitifitas
• ototoksisitas proporsional dengan jumlah obat yang diberikan dan lama pengobatan.
• Tinnitus atau vertigo dapat menjadi indikasi  dari vestibular injury
• Kerusakan ginjal biasanya reversible
Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus
-
Informasi Pasien
a. Bentuk sediaan yang diberikan
b. Cara pemakaian
c. Apa yang dilakukan jika pasien lupa minum obat
d. Interaksi yang mungkin terjadi
e. Cara penyimpanan
Mekanisme Pasien
Menghambat sintesis protein bakteri yang peka dengan cara berikatan dengan sub unit ribosom 30S.
Monitoring Penggunaan Obat
-
Daftar Pustaka
AHFS Drug Information 2005
Drug Information Hand Book Edisi 14
British National FormularyMartindale The Extra Pharmacopeian
Meylers Side Effects of Drugs
MIMS  2005
[Dinkes Tasikmalaya]
 bjgkbskgs
srgknsgklnsdzlb
dbvfxbnfbdfb
dbfdbnd
dbdnd
dndxgndfx
dndnd
dgndgn
dgnbdgn
dgndgndgfngfnnfgnfg

dxfgngdfbdfjdxnbdjxbndgbgbndxkbndxgb
dbdjbgndbgjnd

Alprazolam

Deskripsi, Golongan/kelas terapi, Nama Dagang, , Indikasi, Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian, Farmakologi, Stabilitas penyimpanan, Kontraindikasi, efek samping, Interaksi, Mekanisme, Bentuk Sediaan, Peringatan, Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus, Informasi Pasien, Monitoring Penggunaan Obat Aprazolam
(Ilustrasi)
Deskripsi
- Nama & Struktur Kimia
:
Alprazolamun, 8-chloro-l-methyl-6-phanyl-4H-1,2,4-triazolo(4,3-a)(1,4)benzodiazepin, C17H13CIN4
- Sifat Fisikokimia
:
Kristal putih, tidak larut dalam air, larut dalam alkohol.
- Keterangan
:
-
Golongan/Kelas Terapi
Psikofarmaka
Nama Dagang
- Alganax
- Atarax
- Calmiet
- Feprax
- Xanax
- Ziprax
Indikasi
Gangguan kecemasan, panik dengan atau tanpa agorafobia ( ketakutan di  ruang terbuka), kecemasan yang berkaitan dengan depresi.
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Pemberian secara oral. Lakukan evaluasi setelah terapi >4 bulan untuk menentukan apakah pasien membutuhkan kelanjutan terapi. Oral ; dewasa ; ansietas dosis efektif 0,5-4 mg/hari dibagi dalam 2 dosis, direkomendasikan mulai dengan 0,25-0,5 mg 3 kali sehari, naikkan dosis bertahap, maksimum 4 mg/hari. Ansietas berkaitan dengan depresi; dosis rata-rata yang dibutuhkan 2,5-3 mg/hari dibagi dalam 2 dosis. Putus penggunaan alkohol : dosis lazim : 2-2,5 mg/hario dibagi dalam 2 dosis. Gangguan panik : Awal 0,5 mg sehari tiga kali, dosis dapat ditingkatkan <=1 mg/hari setiap 3-4 hari. Pemberian dengan cara lepas lambat 0,5-1 mg sehari satu kali, dapat ditingkatkan = 1 mg/hari setiap 3-4 hari. Hindari penurunan dosis secara tiba-tiba. Dosis harian diturunkan 0.,5 mg/3 hari. Anak-anak : ansietas : awal 0,005 mg/kg/dosis atau 0,125 mg/dosis 3 kali sehari. Tingkatkan sebanyak 0,125-0,25 mg, maksimum 0,02mg/kg/dosis atau 0,06 mg/kg/hari (0,375-3 mg/hari). Geriatri : Karena pasien geriatri umumnya lebih sensitif terhadap alprazolam maka sebaiknya digunakan dosis efektif yang lebih kecil, dosis awal 0,25 mg 2-3 kali sehari. Penyesuaian dosis pada gangguan hati : dosis diturunkan 50%-60%, hindari penggunaan pada sirosis hati.
Farmakologi
Distribusi : Vd 0,9-1,2 l, masuk ke dalam ASI, ikatan protein 80%. Metabolisme di hati lewat CYP3A4, membentuk 2 metabolit aktif : 4 hidroksi alfazolam dan alfa hidroksi alfazolam. Bioavailabilitas 90%, T½ eliminasi dewasa : 11.2 jam, Orang tua : 16.3 jam, Penyakit hati karena alkohol : 19,7 jam, Obes: 21,8 jam. Tmaks : 1-2 jam, ekskresi urin sebagai metabolit dan bentuk utuh.
Stabilitas Penyimpanan
Simpan dalam suhu kamar 20°-25°C, hindari lembab, tutup rapat botol dan buang kapas yang ada di dalam botol.
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap alprazolam atau komponen-komponen lain dalam sediaan, kemungkinan sensitivitas silang dengan benzodiazepin lain, glaukoma sudut sempit, penggunaan bersama ketokenazol dan itrakenazol, kehamilan.
Efek Samping
> 10%
SSP : depresi, mengantuk, disartria (gangguan berbicara), lelah, sakit kepala, hiperresponsif, kepala terasa ringan, gangguan ingatan, sedasi; Metabolisme-endokrin : penurunan libido, gangguan menstruasi; Saluran cerna : peningkatan/penurunan selera makan, penurunan salivasi, penurunan/peningkatan berat badan, mulut kering (xerostomia).
1-10%
Kardiovaskuler : hipotensi; SSP : gangguan koordinasi, akatisia (tidak bisa duduk tenang), gangguan konsentrasi, bingung, kehilangan perasaan terhadap realitas, disorientasi, disinhibisi, pusing, hipersomnia(tidur terus), mimpi buruk, vertigo.
Interaksi
- Dengan Obat Lain : Antifungi golongan azol, siprofloksasin, klaritromisin, diklofenak, doksisiklin, eritromisin, isoniasid, nikardipin, propofol, protease inhibitor, kuinidin, verapamil meningkatkan efek alprazolam. Kontraindikasi dengan itrakenazol dan ketokenazol. Menguatkan efek depresi SSP analgetik narkotik, etanol, barbiturat, antidepresan siklik, antihistamin, hipnotik-sedatif. Alprazolam dapat meningkatkan efek amfetamin, beta bloker tertentu, dekstrometorfan, fluoksetin, lidokain, paroksetin, risperidon, ritonavir, antidepresan trisiklik dan substrat CYP2D6 lainnya. Alprazolam meningkatkan konsentrasi plasma imipramin dan desipiramin. Aminoglutetimid, karbamasepin, nafsilin, nevirapin, fenobarbital, fenitoin menurunkan efek alprazolam.
- Dengan Makanan : Merokok menurunkan konsentrasi  alprazolam sampai 50 %. Jus grapefruit meningkatkan konsentrasi alprazolam. Makanan tinggi lemak, 2 jam sebelum pemberian bentuk lepas terkendali dapat memperpanjang Cmaks sampai 25 %. Sedangkan pemberian segera sesudah makan akan menurunkan Tmaks, bila makanan diberikan >=1 jam sesudah pemberian obat T maks akan meningkat 30 %. Valerian St John's wort, kava-kava, gotu kola dapat meningkatkan depresi SSP.
Pengaruh
- Terhadap Kehamilan : Faktor risiko : D Dapat berbahaya pada janin bila diberikan pada trimester I, penggunaan pada kehamilan dihindari.
- Terhadap Ibu Menyusui : Masuk ke dalam ASI, tidak dianjurkan.
- Terhadap Anak-anak : -
- Terhadap Hasil Laboratorium : -
Parameter Monitoring
Status pernafasan dan kardiovaskuler.
Bentuk Sediaan
Tablet 0,25 mg, 0,5 mg, 1 mg, 2 mg.
Peringatan
Gejala putus obat (kejang) dapat terjadi 18 jam-3 hari setelah dihentikan tiba2. Gunakan hati-hati pada pasien debil, orang tua, dengan penyakit hati, gagal ginjal atau obesitas.
Hati-hati dengan kegagalan kemampuan fisik/mental (pengemudi dan operator mesin).
Benzodiazepin berkaitan dengan jatuh, luka trauma, hati-hati pada orang tua.
Hati-hati pada pasien depresi kemungkinan terjadinya episode mania atau hipomania.
Hati-hati pada pasien  remaja/anak dan pasien psikiatri karena reaksi paradoks.
Benzodiazepin berkaitan dengan amnesia retrograde.
Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus
-
Informasi Pasien
Obat ini untuk mengatasi kecemasan. Katakan ke dokter bila pernah alergi dengan obat ini atau dengan obat atau makanan lain. Gunakan obat sesuai anjuran dokter. Kadang obat ini harus digunakan beberapa minggu sebelum efek penuh dicapai. Bila lupa meminum obat ini yang aturan pakainya satu tablet pada malam hari, jangan meminumnya pagi hari kecuali setelah berkonsultasi dengan dokter. Bila digunakan lebih dari satu dosis/tablet per hari, segera minum obat bila lupa, tetapi bila sudah dekat dengan waktu minum kedua, tinggalkan dosis pertama dan mulai dengan dosis reguler. Jangan hentikan minum obat tanpa berkonsultasi dengan dokter. Konsultasikan dengan dokter bila memakan obat lain. Bila merasakan reaksi yang tidak menyenangkan/menggangu karena memakan obat ini konsultasikan dengan dokter. Simpan obat ini jauh dari jangkauan anak-anak.
Mekanisme Aksi
Berikatan dengan reseptor benzodiasepin pada saraf post sinap GABA di beberapa tempat  di SSP, termasuk sistem limbik dan formattio retikuler. Peningkatan efek inhibisi GABA menimbulkan peningkatan permiabilitas terhadap ion klorida yang menyebabkan terjadinya hiperpolarisasi dan stabilisasi.
Monitoring Penggunaan Obat
-
Daftar Pustaka
Sweetman SC. Et.al. Martindale:The complete drug reference, 34th ed., Pharmaceuticall Press 2005.
LacyCF. Et.al. drug Information handbook international, Lexicomp 2005.
The United States Pharmacopeial Convention,Inc. Advice for the patient Drug Information in Lay Language ;USPDI  17th ed. Rand McNally, Tauton, Massachusetts 1997.
[Dinkes Tasikmalaya]


Penggolongan Antibiotik

Penisilin :
(Benzilpenisilin (Penisilin G) dan fenoksimetilpenisilin (penisilin V)
-penisilin tahan penisilase : kloksasilin, flukoksasilin
-penisilin spektrum luas : ampisilin, amoksisilin, amoksiklav, bakampililin, pivampisilin.
-penisilin antipseudomonas : piperasilin, ureidopenisilin, sulbenisilin, tikarsilin
-mesilinam : pivmesilinam)
golongan sofalosporin :
(sefradin, sefuroksim, Sefaleksim
sefotaksim, seftazidin, seftriakson, sefaklor)
Antibiotik betalaktam lainnya :
-golongan monobaktam, aztreonam dan
-golongan karbapenem, imipenem (turunan tienamisin) dan meropenem),
golongan tetrasiklin :
(demeklosiklin, doksisiklin, minosiklin, oksitetrasiklin, tetrasiklin)
Golongan Aminoglikosida 
(amikasingentamisin, kamamisin, neomisin, netilmisin, streptomisin, dan tobramisin.)
golongan makrolida
(azitromisin, Eritromisin, Klaritromisin, Roksitromisin, Spiramisin)
Golongan Kuinolon :
(Siprofloksasin (Cyprofloxacin), Levofloksasin, Ofloksasin, Asam nalidiksat, Norfloksasin, Moksifloksasin)
Sulfonamida dan Trimetoprim ( Kotrimoksazol)
Antibiotik Lain
(Kloramfenikol, Klindamisin, Vankomisin dan Teikoplanin, Spektinomisin, Linezolid)


Penggolongan Antibiotik, Klasifikasi Antibiotik

Antibakteri terdiri dari antibiotik dan kemoterapi
Antibiotik adalah zat yang dihasilkan mikroba, terutama fungi, yang dapat membasmi ataupun menghambat pertumbuhan mikroba jenis lain.
Antibiotik dapat dibuat secara sintesis, yang bisa juga disebut kemoterapi. Kemoterapi adalah zat kimia yang dapat membasmi ataupun menghambat pertumbuhan mikroba, tetapi zat ini tidak berasal dari suatu mikroba atau fungi.
Klasifikasi antibiotik/antibakteri :
     1.       Penisilin
     2.       Sefalosporin dan antibiotik betalaktam lainnya
     3.       Tetrasiklin
     4.       Aminoglikosida
     5.       Makrolida
     6.       Kuinolon
     7.       Sulfonamida dan trimetoprim
     8.       Antibiotik lain

1.Penisilin
Penisilin adalah antibiotik yang bersifat bakterisida (membunuh bakteri) dengan mekanisme menghambat sintesa dinding sel bakteri. Obat ini berdifusi baik pada jaringan dan cairan tubuh, tapi penetrasi kedalam cairan otak kurang baik kecuali selaput otak mengalami infeksi. Antibiotik yang termasuk golongan penisilin antara lain :
-Benzilpenisilin (Penisilin G) dan fenoksimetilpenisilin (penisilin V)
-penisilin tahan penisilase : kloksasilin, flukoksasilin
-penisilin spektrum luas : ampisilin, amoksisilin, amoksiklav, bakampililin, pivampisilin.
-penisilin antipseudomonas : piperasilin, ureidopenisilin, sulbenisilin, tikarsilin
-mesilinam : pivmesilinam

2.Sefalosporin dan antibiotik betalaktam lainnya
Sefalosporin merupakan antibiotik spektruk luas yang digunakan untuk terapi septikemia, pneumonia, meningitis, infeksi saluran empedu,  peritonitis,  dan infeksi saluran urin. Aktivitas farmakologisnya sama dengan penisilin, diekskresikan melalui ginjal, kemempuan melewati sawar otak  sangat rendah kecuali terjadi inflamasi. Antibiotik golongan sofalosporin  ini termasuk :
-sefradin, sefuroksim, Sefaleksim
-sefotaksim, seftazidin, seftriakson, sefaklor
Antibiotik betalaktam lainnya :
-golongan monobaktam, aztreonam dan
-golongan karbapenem, imipenem (turunan tienamisin) dan meropenem.

3. Tetrasiklin
Tetrasiklim merupakan antibiotik spektrum luas, secara mikrobiologis, hanya sedikit mikroba yang dapat diatasi oleh golongan tetrasiklin, kecuali minosiklin, namun minosiklin jarang digunakan karna efek samping pusing dan vertigo. Dilain sisi tetra merupakan salah satu alternatif pilihan obat bagi pasien yang alergi terhadap antibiotik golongan betalaktam.
Penggunaannya mulai menurun karena banyaknya terjadi resistensi bakteri, namun obat ini masih merupakan pilihan untuk infeksi saluran pernafasan, dan mikoplasma genital, serta infeksi yang disebabkan klamidia (trakoma, psitakosis, salpingitis, uretritis, dan limfogranuloma venereum), riketsia (termasuk Q-fever), brusela, dan spiroketa.
Obat yang termasuk golongan tetrasiklin :
-demeklosiklin, doksisiklin, minosiklin
-oksitetrasiklin, tetrasiklin,

4. Aminoglikosida
Antibiotik golongan ini bersifat bakterisidal yang terutama aktif terhadap bakteri gram negatif, golongan ini meliputi amikasin, gentamisin, kamamisin, neomisin, netilmisin, streptomisin, dan tobramisin.
Aminoglikosida tidak diabsorpsi melalui saluran cerna, sehingga harus diberikan secara parenteral untuk mengatasi infeksi sistemik. adapun efek samping obat golongan ini adalah ototoksik (menganggu pendengaran/ketulian) dan nefrotoksik (merusak ginjal), efek samping tergantung dosis, lama pemberian, umur (lansia dan anak anak paling beresiko) maupun variasi individual terkait fisiologi dan metabolisme.
Aminoglikosida sebaiknya jangan diberikan bersamaan dengan diuretik (misal furosemid/HCT dll) karena potensial memperparah resiko ototoksik. jika terpaksa (darurat) memberikannya, maka jarak minum antar kedua obat harus sepanjang mungkin.

5. Makrolida
yang termasuk golongan makrolida antara lain : azitromisin, Eritromisin, Klaritromisin, Roksitromisin, Spiramisin. 
Azitromisin adalah makrolida yang aktivitasnya terhadap bakteri gram positif, sedikit lebih lemah dibanding eritromisin. Waktu paruh relatif lama sehingga memungkinkan penggunaan dosis satu kali sehari.
Eritromisin memiliki spektrum antibakteri yang mirip dengan penisilin, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif terhadap pasien yang alergi maupun yang resisten terhadap penisilin, umunya eritromisin digunakan untuk infeksi saluran nafas. Klaritromisin merupakan derivat eritromisin, dimana klaritromisin lebih kuat aktivitasnya dibandingkan eritromisin.

6. Kuinolon
Antibiotik yang termasuk kedalam kuinolon antara lain : Siprofloksasin (Cyprofloxacin), Levofloksasin, Ofloksasin, Asam nalidiksat, Norfloksasin, Moksifloksasin,
Siprofloksasin aktif terhadap bakteri gram positif dan negatif, namun lebih kuat dan aktif terhadap bakteri gram negatif, siproksasi tidak boleh digunain terhadap pneumonia pneumococus karena tidak efektif.
Levofloksasin merupakan antibakteri gram positif dan negatif, lebih aktif terhadap P.Pneumococus dibanding siprofloksasin.

7. Sulfonamida dan Trimetoprim
yang cukup banyak digunakan adalah sulfametoksazol dan trimetoprim dalam bentuk kombinasi (Ko-Trimoksazol) , namun kotrimoksazol dapat menyebabkan efek samping yang serius, namun jarang terjadi seperti sindrom stevens johnson, diskrasi darah : penekanan sumsum tulang belakang, kernikterus bagi bayi yang berumur kurang dari 6 minggu, adanya resiko anemia hemolitik pada anak dewasa yang defisiensi G6PD,

8. Antibiotik Lain
a. Kloramfenikol
kloramfenikol adalah antibiotik spektrum luas, penggunaannya sebaiknya untuk penanganan infeksi yang mengancam jiwa.
b. Klindamisin
Klindamisin aktif terhadap bakteri kokus gram positif, Klindamisin mempunyai efek samping yang serius, seperti kolitis. bila penggunaannya menyebabkan diare, maka sebaiknya pengobatan dihentikan segera.
c. Vankomisin dan Teikoplanin
antibiotik ini aktif terhadap bakteri gram positif aerob dan non aerob termasuk stafilokokus yang multiresisten.
d. Spektinomisin
Antibiotik ini aktif terhadap bakteri gram negatif termasuk N. Gonnorhoeae, obat ini hanya diindikasikan terhadap penyakit gonorhoe yang resisten terhadap penisilin.
e. Linezolid
Linezolid merupakan antibakteri oksazolidinon yang aktif terhadap bakteri gram positif.

[IONI]

Senin, 25 November 2013

Allopurinol

Deskripsi Allopurinol, Golongan/kelas terapi Allopurinol, Nama Dagang Alupurinol, , Indikasi, Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Allupurinol, Farmakologi, Stabilitas penyimpanan, Kontraindikasi, efek samping allopurinol, Interaksi, Mekanisme, Bentuk Sediaan, Peringatan, Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus, Informasi Pasien, Monitoring Penggunaan Obat
(gambar ilustrasi)

Deskripsi
- Nama & Struktur Kimia
:
Allopurinolum, Allopurinol, [H-pyrazol[3,4-d]pyrimidin-4-ol;1,5-Dihydro-4H-Dihydro-4H-pyrazolo[3,4-d]pyrimidin-4-one
- Sifat Fisikokimia
:
Berbentuk serbuk putih, agak berbau & sedikit larut dalam air & alkohol. Sediaan larutan alopurinol hampir tidak berwarna dengan pH : 11,1-11,8
- Keterangan
:
-
Golongan/Kelas Terapi
Antipirai
Nama Dagang
- Algut
- Alofar
- Benoxuric
- Hanoric
- Hycemia
- Isoric
- Kemorinol
- Licoric
- Llanol
- Nilapur
- Omeric
- Omeric
- Puricemia
- Puricemia
- Reucid
- Rinolic
- Sinolic
- Tylonic
- Urica
- Uricnol
- Uroquad
- Uroquad
- Xanturic
- Zyloric
Indikasi
Pirai primer & sekunder : Hyperuricemia karena penggunaan chemoterapi "Recurrent Renal Calculi". Lain-lain : Menurunkan hiperuricemia sekunder akibat ke-kurangan glucose-6-phosphatedehydrogenase, "Lesch-Nyhan syndrome", "Polycythemia vera", "Sarcoidosis", pemakaian thiazid & ethambutol.
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Oral : Dosis tunggal, sebaiknya setelah makan & harus minum air yg banyak paling tidak 2L dalam sehari (kecuali Pasien CHF/penyakit lain yang tidak boleh minum banyak). Jika dosis melebihi 300mg, sebaiknya dalam dosis terbagi Gout : dosis awal 100mg/hr dapat ditingkatkan 100mg setiap minggu sampai kadar asam urat 6mg/dL atau sampai dosis mencapai 800mg/hr. Hyperuricemia karena penggunaan chemoterapi : Dewasa : 600-800mg/hr untuk 2-3 hr. Mulai 1-2 hr sebelum mulai khemoterapi.   Dosis pada Pasien dengan kerusakan ginjal, dosis harus dikurangi tergantung dari creatinine clearance (Kc). Kc : 0 - Dosis pemberian (Dp) : 100mg setiap 3 hari, Kc : 10 - Dp : 100mg setiap 2 hari, Kc : 20 - Dp : 100mg setiap hari, Kc : 40 - Dp : 150mg setiap hari, Kc : 60 - Dp : 200mg setiap hari, Kc : 80 - Dp : 250mg setiap hari, Batu ginjal Kalsium Oksalat : 200-300mg/hari .
Farmakologi
Penghambat kerja enzim xantin oksidase yang mengkatalisasi perubahan hipoxantin menjadi xantin & perubahan xantin menjadi asam urat yang pada akhirnya menurunkan konsentrasi asam urat dalam serum & urin.
Stabilitas Penyimpanan
Disimpan dalam wadah tertutup rapat pada suhu 15-30 derajat Celsius Injeksi : setelah direkonstitusi & dilarutkan dalam Normal salin atau dextrose 5%, harus disimpan pada suhu 20-25°C & larutan harus digunakan paling lambat 10 jam setelah direkonstitusi, tidak boleh disimpan dalam freezer.
Kontraindikasi
Alergi terhadap allopurinol.
Efek Samping
Efek terhadap kulit & efek lokal : Gatal, kemerahan, eksim, bentol, demam, selulit, bengkak, berkeringat. Alergi : demam, menggigil, leukopenia, eosinopili, kemerahan, gatal, mual & muntah, Stevens-Johnson syndrome, oligouria, CHF, tuli permanen. Efek terhadap hati : Meningkatkan SGOT & SGPT, nekrosis, kerusakan hati, hepatitis, hiperbilirubinemia, sakit kuning. Efek terhadap Saluran cerna : Mual, muntah, diare, sakit abdomen, sembelit, kembung, gastritis, dispepsi, pendarahan lambung & pankreas, bengkak kantung saliva, lidah bengkak. Efek terhadap Sistem syaraf : nyeri pada ujung syaraf, sakit kepala, epilepsi, agitasi, perubahan mental, koma, paralisi, pusing, limbung, depresi, bingung,amnesia, sulit tidur. Efek lain : Demam, myopathy, epistaxis, kerusakan ginjal, penurunan fungsi ginjal, meningkatkan kreatini, hematouria, oligouria, UTI, asidosis, asidosis metabolit, hiperfosfatemia, hipomagnesemia, hiponatremia, hipernatremia, hipokalemia, hiperkalemia, hiperkalsemia, abnormalitis elektrolit. abnormalitis elektrolit. Tumor lisi sindrom sepsis, infeksi lain, Kerusakan jantung, gangguan pernafasan.
Interaksi
- Dengan Obat Lain : Obat antineoplastik : Dosis 300-600mg dapat meningkatkan toksisitas azathioprin dan mercaptopurin. Dosis obat antineoplastik harus diturunkan 25-33%. Obat yang meningkatkan konsentrasi asam urat seperti diuretik, pirazinamid, diazoxide, alkohol & mecamylamine, dosis allopurinol harus dinaikkan. Antikoagulan : Allopurinol menghambat metabolisme decumarol. Ampisilin & amoxisilin : Potensiasi efek alergi aminopenisilin. Diuretik & zat urikosurik : Zat urikosurik meningkatkan efek allopurinol (aditif). Diuretik seperti tiazid : Meningkatkan konsentrasi serum alopurinol sehingga dapat meningkatkan toksisitas allopurinol.Chlorpropamide : Meningkatkan reaksi hepatorenal, monitor hipoglikemi. Obat lain : Cotrimoxazole : Trombositopenia Cyclosporin : Meningkatkan konsentrasi cyclosporin dalam darah (penyesuaian dosis).
- Dengan Makanan : -
 *Pengaruh :
- Terhadap Kehamilan    : Belum ada studi yang adekuat.
- Terhadap Ibi Menyusui : Didistribusi ke ASI, hati-hati untuk ibu menyusui
- Terhadap Anak-anak    : Digunakan hanya pada anak-anak dengan hiperurisemia akibat penyakit neoplastik sekunder, sedang menjalani kemoterapi, kelainan genetik terhadap metabolisme purin.
- Terhadap Hasil Laboratorium : -
Parameter Monitoring
-
Bentuk Sediaan
Tablet, Kapsul, Kaplet, Tablet Salut Film 100mg, 300mg.
Peringatan
Pasien anak, wanita hamil & menyusui, penggunaan allopurinol hanya jika betul-betul diperlukan. Untuk Pasien lansia, perhatikan penyesuaian dosis akibat penurunan fugsi hati, ginjal & jantung. Pasien dengan asimtomatik hiperurisemia dengan kadar asam urat < 9mg/dL.
Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus
-
Informasi Pasien
Minum allopurinol dengan air yang cukup  (kecuali Pasien CHF/peny. lain yang tidak boleh minum banyak). Hentikan penggunaan jika terjadi reaksi alergi.
Mekanisme Aksi
Menurunkan konsentrasi asam urat dalam serum & urine.
Monitoring Penggunaan Obat
-
Daftar Pustaka
AHFS Drug Information 2005
ISO Tahun 2007
MIMS Edisi 6, 2006
Martindale, 34 th edition
[Dinkes Tasikmalaya]